Pasti kalian sudah bisa nebak jalan
cerita inikan!
Begini waktu aku kelas 3 SMP aku tak tahu kenapa dan
kebodohanku bisa – bisanya menyukai seorang cowok yang cuek banget walau begitu
dia memiliki wajah tampan dengan kulit yang putih mulus , hidung mancung dan
bibir yang seksi. Dulu diriku mengira dia juga menyukainya tapi nyatanya
tidak.aku sangat bodoh sekali. Semenjak itu mataku terbuka lebar bahwa aku tak
pentas menyukai seorang cowok seperti itu ditambah kepopulerennya sekolah , aku
sadar tiada orang yang menyukaiku karena gimana tidak aku itu orangnya
pesek,kulitku hitam ditambah ku jerawatan lagi tapi itu waktuku masih SMP. Tak
pernah lagi ku berharap dan memberikan hatiku pada seseorang karena takutku
yang hanya ada di otakku sekarang hanya 1 “MEMBANGGAKAN ORANGTUAKU”
O iya, sebelumnya kuperkenalkan diriku dulu yah. Aku bernama Primarani Emiliana
dengan kulit putih dan muka yang bersih tanpa jerawat. sekarang ku kelas 1 di
suatu sekolah SMK di SMK perawat yaitu tepatnya di Kota Bandung.
Saat itu aku sedang berlibur ke kota Bogor….
Tepat di depanku
Kulihat Taksi tidak jauh dari aku , maka akupun melangkah kakiku menuju taksi
itu dan tidak butuh 10 langkah aku sudah sampai disana.
“Mau naik taksi dek.!”tanya padaku maka akupun tersenyum simpul sambil
mengangguk menandakan bahwa aku memang ingin naik taksi , pak sopir pun
mengambil tasku dan menyimpannya di bagasi lalu akupun masuk ke dalam Taxi, di
dalam Taxi pak sopir itu bertanya padaku “Mau kemana dek?” akupun menajwab
sambil tersenyum “ Jalan Sunu”jawabku singkat dan Taxi pun meluncur menuju
kesana.
Akupun sampai di mana rumah nenekku berada, dimana ibuku dan adikku tinggal tak
lupa aku membayar biaya Taxi dulu.
“Ini mas uangnya , kembaliannya di ambil saja”ujarku lalu menuju ke rumah
nenekku.
Di depan ruma nenekku aku langsung saja mengetuk pintu sambil mengucapkan salam
dan tak butuh waktu lama pintu itu terbuka.
“Gio!”ujarku kaget sambil membulatkan mataku karena yang membukakan pintu itu
sosok cowok Cinta pertamaku,Kenapa ini! Kenapa dia berada di rumah nenekku.
Astaga , ini sungguh menyebalkan sekali. Rasanya kepalaku puyeng bener karena
saat melihat Gio aku jadi teringat kejadian itu, ingin rasanya ku kabur mendapati
Gio berada di rumah nenekku tetapi ku terlalu kangen sama Ibuku dan Adikku jadi
nggak jadi deh.
Gio juga tak kalah kagetnya melihatku berada di sini “Prima!”
Hening tak ada yang berbicara tapi itu tak berlangsung lama karena sodarku Fio
memecahkan kehinangan itu di balik pintu “Kak Gio , siapa yang....”belum
selesai Fio bicara sambil memegang cemilan dan dia mendapatkan aku berada di
depan pintu , Fiopun sontak memelukku karena gimana tidak? 3 tahun we...!
ehrr.. pastilah Sodaraku kangen denganku.
“Kakak, kenapa kakak baru datang. Aku sungguh sangat kangen sama kakak”ujarnya
kegirangan melihatku berada disini
“Maaf yah Fio”pintaku sambil melihat kedepan dimana berada Gio yang sedang
memperhatikanku dengan reaksi yang sulit ku tebak
“Kak , ayo masuk! O iya , kakak masih kenalkan Gio teman kelas kakak waktu
SMP”ujarnya meyuruhku masuk sambil bertanya padaku
“Yah”ujarku sangat singkat dan dingin.
^Flashback^
Di dalam kelas yang masih ada banyak sisiwa
“Prima,lohh pikir ulang dulu deh! Gue takut loh napa – napa”ujar Nani sahabatku
khawatir denganku
“Nan , aku sudah tidak tahan”ujarku sambil menitikkan air mata
“Tapi Prima , loh taukan Gio itu. Ku mohon jangan lakukan itu !jangan gegabah
Mi. Aku takut sekali”ujarnya menyuruhku mempertimbangkan bahwa aku akan
menerima Gio
“Kamu tak perlu khawatir Nani, gue nggak gak apa – apa kok!”ucapku lalu menuju
ke Pintu kelas dimana Gio berada
Akupun menyatakan isi hatiku pada Gio
“Gio , jujur aku sangat menyukaimu!”ujarnya saat keluar main dimana Gio yang
baru saja mau keluar ke kelas dengan Nalen sahabatnya. Sungguh aku tidak
percaya sekali ternyata cowo yang aku simpan menyimpan perasaanku lebih 2 tahun
juga
“Hah.. nyadar dongg luu tuhh nggak selevel sama gue! Ngaca dulu dong. Apa gue
harus beliin dulu lohh kaca baru nyadar. Buang – buang tuh perasaan loh. Lebih
baik loh kasih perasaan itu sama tempat sampah ajah”ujar Rudi dengan kalimat
pedas padaku sambil memasang muka jijit. Di dalam kelasku semuanya ribut karena
kelakuanku.
Aku tak menyangka apa yang dikatakannya itu , air mataku pecah akupun langsung
keluar dari kelas disusul Nani mengekorku.Aku sekarang berada di belakang Lab
Bahasa Indonesia sambil menangis dan terus menangis dan Nanipun mengahmpiriku
“Prim, gue kan udah bilang. Aku mohon berhentilah menangis , jangan hanya
karena cowok seperti dia kau jadi seperti ini. Masih banyak kok cowok di dunia
ini!”selanya padaku sambil memelukku menyuruhku menghentikan tangisanku tetapi
bukannya tangisanku berhenti tapi aku lebih menangis lagi.
“Prim , gue mohon jangan menangis!”pintanya padaku yang tak henti – hentinya
menangis “Nani, makasih yah kau selalu membantuku di dalam suka dan duka”ujarku
menghentikan tangisanku dan Nanipun tersenyum mengembang “Itulah gunanya
sahabat Prima”
***
Aku duduk di ruang tamu , bisa kulihat Gio meminta izin pada Fio untuk pulang.
“Fio , gue pulang dulu yah. Nggak enak nih ada kakak loh”ujar Gio pada Sodaraku
dengan memegang kaset bola
“baiklah kalo gitu , aku mengerti kok maksud kakak”ujarnya
“Okayy, gue duluan dulu yah.”ujar Gio permisi sama Fio
Fio menemani Gio pulang sampai di depan rumah dan tak lama kemudian Fiopun kembali
di susul ibuku yang baru pulang dari pasar.
“Ibu...!aku kangen banget sama ibu”ujarku dan langsung berdiri dari tempat
dudukku
“Prima...!”ujar ibu kegirangan dan langsung menuju ke aku lalu memelukku
Aku begitu senang sekali bisa bertemu ibuku begitupula dengan sodaraku. Ku
lihat ibu mengalami perubahan dengan dirinya. Wajah ibu berubah menjadi pucat
dan keriput dan sodaraku berubah menjadi anak remaja yang gagah dan tampan.
Fio membawakan barangku ke kamar tamu dan aku mengekor mengikutinya. Di dalam
kamar ku hempaskan diriku di tempat tidur dan adikku duduk di sampingku.
“Fio , kenapa Gio tadi disini?”ujarku bertanya penasaran
“Tadi aku sama kak Gio lagi main Playstasion kak. kenapa kakak nanya –
nanya?”jawab Fio dan bertanya padaku
“ tidak apa – apa kok”ujarku takut karena nanti adikku curiga padaku
Keeskokan harinya aku mencoba untuk berjalan jalan ke Taman
Kota
Di taman , ku berlari pagi mengelilingi taman sambil membawa tas ransel berisi
Laptop dan saat asyik – asyiknya aku berlari ada seorang cowok yang menabrakku
dari depan memakai baju putih abu – abu dengan 5 buku tulis dipegangnya
terjatuh.
“Maaf, gue nggak nggak sengaja”ujar cowok itu tapi aku tak melihat mukanya dengan
jelas lalu diapun mengambil bukunya yang terjatuh “aku kok yang salah. Sini aku
bantu”ujarku dan akupun membantunya mengambil bukunya yang terjatuh dan tak
sengaja mataku dengan cowok itu bertemu dan akupun tahu siapa cowok itu.
“Gio!”ujarku kaget karena aku bertemu lagi dengan Gio. Mengapa ini terjadi
lagi? Bisa gila aku lama – lama karena bertemu terus dengan Gio. Semenjak Gio
menolakku aku jadi trauma untuk menyukai seseorang sampai sekarang dan entah
kenapa sekarang perasaan cintaku pada Gio kembali lagi. Ini sungguh sangat
menyebalkan -__- aku pun berlari dengan cekatan sambil menitikkan air mata
meninggalkan Gio yang juga kaget melihatku bertemu denganku lagi.
Ku berlari secepatnya karena ketakutan , setiap kali ku lihat Gio kalimat itu terbayang
– bayang di otakku “Hah.. nyadar dongg luu tuhh nggak selevel sama gue! Ngaca
dulu dong. Apa gue harus beliin dulu lohh kaca baru nyadar. Lebih baik loh
kasih perasaan itu sama tempat sampah ajah” kalimat pedas yang di dengar oleh
semua temanku di kelas. Rasanya sakit banget saat menginggat itu.
“Primaaaa, maafin gue soal dulu! Gue mohon Prim”teriak Gio memohon sambil
berlari mengejarku
Akupun mempercepat lariku dan kebetulan saat itu aku melihat mobil pete – pete,
aku langsung saja masuk dalam mobil itu dan menyuruhnya cepat jalan.
Mobil pete – pete itu berjalan, air mataku berjatuhan terus menerus membasahi
pipiku yang agak putih. Diriku sekarang memang udah berubah , aku jadi putih
dan mukaku sekarang sudah tidak ada jerawat lagi.
Di dalam mobil pete – pete ku baru sadar kalau penumpangnya hanya aku bersama
seorang cowok yang pakaian sekolahnya mirip denganGio.
“Prima..!loh Primakan”ujarnya bertanya padaku
“Yah..”jawabku dan saat itu ku perhatikan muka cowok itu dan menghentikan
tangisanku. Disitu aku baru sadar bahwa cowok itu adalah Nalen sahabat Gio.
“hai Nalen”ujarku menyapa dan bukannya membalas sapaanku tapi Nalen malah
bertanya “Prim , loh napa menangis! Apa karena Gio . tadi gue lihat koh kamu
sama Gio berlari – larian”
Saat dia katakan itu , aku menangis lagi.Jantungku sesak banget , rasanya
kepalaku puyeng benar dan belum sempat ku jawab pertanyaannya aku langsung
jatuh pingsan.
^Rumah Nenek^
Mataku terbuka sedikit – demi sedikit di atas ranjang tidurku. Kulihat Gio
menitikkan air mata berada di sampingku dan saat dia melihatku mataku sudah
terbuka diapun tersenyum senang melihatku.
“Prim, loh udah sadar”gumam Gio padaku
“Kenapa loh ada disini. Loh keluar sana. Gue benci sama loh”teriak diriku yang
kesal sekali.
“Prim, gue minta”belum sempat Gio selesai aku langsung mem berontak dan lebih
keras berteriak “Gue bilang loh keluar!”
Mamaku dan adikku begitupula dengan nenekku menyuruhku tenang tapi ku lebih
memberontak dan saat Gio keluar dari kamarku ditemani Fio akupun tenang. aku
memang orang tidak baik , tapi ku tak bisa melupakan semuanya. Hatiku sakit
sekali, sulit ku maafkan Gio.
Satu minggu kemudian , aku duduk sendiri di taman memperhatikan mobil maupun
motor berlalu lalang ditemani burung – burung berkicaun dan pohon – pohon yang
menari – nari memberi semangat diriku. Aku yang terlalu fokus memperhatikan
keindahan taman tidak sadar bahwa Gio sudah berada di sampingku.
“Prima”ujar Gio yang membuatku kaget mendengar perkataanya, sontak saja ku
berdiri dan bersiap untuk lari tapi tanganku ditahan olehnya dan Gio langsung
memelukku “Prim , gue mohon maafin gue. Loh tau smenjak kejadian itu gue baru
sadar kalo gue itu mencintai lohh, saat tiada loh , gue tidak bisa menyukai
siapapun. Hidup gue rasanya nggak berarti, Hanya loh yang ada di hati gue. Gue
mohon maafin gue Prim , gue memang udah terlambat tapi bisakah kau mendengarkannya”
“Loh bohong Gio, loh pasti suka gue setelah melihatku sekarangkan”ujarku tak
percaya mendengar perkataannya “Gue nggak bohong, tatap mata gue.
Tatap...?”ujarnya menyuruhku menatap matanya , akupun menatap matanya dan
kulihat tiada tanda kebohongan darinya.
“Prim , maafin gue yah. Gue sayang banget sama loh. Jangan lagi menghindar dai
gue, ku mohon! Dulu dan sekarang tiada bedanya loh. Gue tetap sayang loh
gimanapun dirimu. Gue suka lohh dari dalam diriloh bukan diluar loh”ujarnya
yang membuatku menitikkan air mata.
“Yah, gue juga sayang sama loh”ujarku
Hariku penuh dengan tawa yang indah tiada lagi kesedihan semenjak Gio berada di
sampingku.
Cinta pertamaku itulah menjadi cinta terakhirku. Aku sangat
menyayanginya, perasaanku yang sudah ku pendam 4 tahun tidak sia – sia.
GIO.. I LOVE YOU:)