Setiap malam aku selalu melihat jauh keatas, ketempat yang
tidak kutahu batasannya. Aku memandangi bintang-bintang kecil yang
bertaburan diangkasa. Sembari berharap bahwa mala mini dia akan muncul
di hadapanku. Meski akhirnya aku tahu harapanku akan tetap jadi harapan
yang sia-sia disetiap malam begitupun malam ini.
“bintang.. kamu tahu kan perasaan aku? Tapi kenapa kamu diem aja? Dia dimana? Dia dating kan malam ini?”
Aku masih ingat betul bagaimana dia datang dan mengucapkan
janjinya beberapa tahun silam. Dia memintaku untuk tetap mencintainya,
apapun yang akan terjadi. Aku ingat, aku dan dia sama-sama sangat
menyukai indah kemerlip bintang. Hingga dia mampu berjanji bahwa suatu
saat nanti dia akan dating dan menyinariku disaat bintang-bintang tak
lagi ada yang bersinar.
“bintangnya cantik ya? Sama kaya kamu. Cantik! ….. kamu tahu?
Aku selalu ingin jadi bintang yang bersinar disetiap malam kamu.”
Kenangku.
Aku selalu menangis. Bukan menangisi janjinya yang tak
kunjung menjadi nyata. Air mataku selalu terurai bersama kerinduan yang
menjelma dalam hatiku. Kerinduan yang selalu mengundang amarah orang
tuaku.
“kamu itu mau sampai kapan terus menreus berkhayal seperti itu .” Mamah selalu menganggap semua ini hanyalah khayalan belaka.
Memang, jika saja logikaku lebih bisa berjalan dengan
semestinya, apa yang ibu bilang memang lebih benar. Tapi pada
kenyataannya logikaku selalu membuncah terkalahkan rasa yang terus
menggelayuti batinku. Batin yang berjanji untuk selalu menanti….
Mei 2014
Sadarkah aku saat malam berhenti menyapa.
Saat bulan tak lagi memberiku sinar.
Tak pernah aku tahu tentang itu.
Tak pernah aku perduli tentang itu.
Tapi…
Adakah yang mengerti sakitku ini.
Menahan sayatan tajam didalam hati.
Hanya kau jawabnya!!!!!
Kau yang mampu bangkitkanku dari sini.
Aku bangkit bersama cintamu.
Bersama jajaran kasih tulusmu.
Hingga kusandarkan jiwaku disini.
Sampai kapanpun tetap akan disini.
….. untukmu….
-jiwa fatamorgana-
* * * * *
Aku terhenyak. Begitu lama aku meninggalkan duniaku, dunia yang
ada bersama diriku sendiri. Aku tahu bahwa sebuah kebodohan itu
sebenarnya adalah keinginanku sendiri. Keinginan yang perlahan-lahan tak
lagi aku mengerti.
Aku mungkin sudah terlampau jauh melangkah. Terlampau banyak
pula kisah yang aku tinggalkan. Tapi tetap tidak untuk satu kisah dan
satu nama. Nama yang telah membuatku selalu mengaguminya, mencintai
keindahan dalam raganya, meski aku tahu hatiku selalu ingin membatasi
rasa cinta itu.
“aku kangen sama kamu..” air mataku meleleh lagi.
Kubuka lembar demi lembar album besar yang menyimpan
serpihan-serpihan kenangan yang pernah terajut bertahun lalu. Kusentuh
lembut gambar wajahnya. Senyum menawan yang kini hanya tinggal garis
lengkung dalam gambar semata.
“kamu kenapa sih menghilang? Memangnya nggak kangen ya sama
aku.” Air mataku semakin deras membasahi pipi. Menahan perih yang
kembali menyayat.
Oktober 2014
Kututurkan segenap ilusi ini.
Mengeja segala daya yang tak nyata.
Aku membingkai titik-titik kecil.
Yang bagimu sungguh tak berarti apa-apa.
Kuulas senyum disudut bibirku.
Membiarkanmu menyangka aku bahagia.
Meski dibalik cadar tawa ini aku menangis pilu.
Namun tertahan kemunafikan.
Ingin aku bercerita pada rinai yang turun.
Betapa kalut jiwa yang hampa ini sendiri.
Ingin aku bertutur pada rinai yang berderai.
Menutupi buli-bulir dari sudut mata yang sayu.
Dan….
Aku masih membisu…
Terdiam, kelu..
Disini, dibawah guyuran air mataku.
-jiwa fatamorgana-
Aku mengangkat daguku. Menahan buliran-buliran yang siap
meluncur dari pelupuk mataku. Meraih ranselku.
Sejenak aku kembali menatap kearah foto manis yang membalut wajah
tampannya.
“aku akan melangkah sayang… tapi bukan untuk meninggalkanmu.” Aku tersenyum dan berlalu.
Kucium tangan Papahd an mamah. Meminta doa dan restu agar perjalananku diberi keselamatan.
“mamah yakin kamu bisa bangkit sayang.. dan ini waktunya.
Fokuslah ke sekolahmu agar kamu bisa benar-benar bangkit.” Mamah
mendaratkan kecupan manis di dahiku.
“Jingga pasti senang melihat kamu kembali menjadi Rani yang
dahulu. Rani yang tegar, Rani yang selalu cantik dengan senyum
ceria..”Papah menambahi.
“iya mah pah.. maaf ya selama ini rani terlalu larut dalam
kesedihan rani. Rani cuman belum siap. Tapi, sekarang Rani udah rela
kok. Jingga pasti bahagia disana.” Aku berlalu meninggalkan Papah dan mamah. Mengulas senyum demi hari yang lebih indah, tanpa air mata.
April 2015
Dan…
Biarlah kusimpan perasaan ini.
Menutup hatiku pada cinta yang lain.
Bila akhirnya kutemukan cinta sepertimu.
Mungkin ku bisa lanjutkan hidupku.
(cappuccino.biar kusimpan)
“satu sudah kau pergi, Jingga. Selama itu pula aku
terpenjara dalam bayang-bayang kasih dan cintamu yang abadi. Kini
saatnya aku terbangun , Jingga. Membingkai kebahagiaan untuk hidupku.
Meski aku akan tetap selalu merindumu hingga saat nanti ragaku ini tak
mampu lagi menanti.”
Aku menghela nafas panjang…..
(Memoriam of Jingga)
***********************************************************************************
