Selasa, 15 Juli 2014

TAKUT JATUH CINTA




Pasti kalian sudah bisa nebak jalan cerita inikan!
Begini waktu aku kelas 3 SMP aku tak tahu kenapa dan kebodohanku bisa – bisanya menyukai seorang cowok yang cuek banget walau begitu dia memiliki wajah tampan dengan kulit yang putih mulus , hidung mancung dan bibir yang seksi. Dulu diriku mengira dia juga menyukainya tapi nyatanya tidak.aku sangat bodoh sekali. Semenjak itu mataku terbuka lebar bahwa aku tak pentas menyukai seorang cowok seperti itu ditambah kepopulerennya sekolah , aku sadar tiada orang yang menyukaiku karena gimana tidak aku itu orangnya pesek,kulitku hitam ditambah ku jerawatan lagi tapi itu waktuku masih SMP. Tak pernah lagi ku berharap dan memberikan hatiku pada seseorang karena takutku yang hanya ada di otakku sekarang hanya 1 “MEMBANGGAKAN ORANGTUAKU”

O iya, sebelumnya kuperkenalkan diriku dulu yah. Aku bernama Primarani Emiliana dengan kulit putih dan muka yang bersih tanpa jerawat. sekarang ku kelas 1 di suatu sekolah SMK di SMK perawat yaitu tepatnya di Kota Bandung.


Takut Jatuh Cinta

Saat itu aku sedang berlibur ke kota Bogor….
Tepat di depanku

Kulihat Taksi tidak jauh dari aku , maka akupun melangkah kakiku menuju taksi itu dan tidak butuh 10 langkah aku sudah sampai disana.
“Mau naik taksi dek.!”tanya padaku maka akupun tersenyum simpul sambil mengangguk menandakan bahwa aku memang ingin naik taksi , pak sopir pun mengambil tasku dan menyimpannya di bagasi lalu akupun masuk ke dalam Taxi, di dalam Taxi pak sopir itu bertanya padaku “Mau kemana dek?” akupun menajwab sambil tersenyum “ Jalan Sunu”jawabku singkat dan Taxi pun meluncur menuju kesana.
Akupun sampai di mana rumah nenekku berada, dimana ibuku dan adikku tinggal tak lupa aku membayar biaya Taxi dulu.
“Ini mas uangnya , kembaliannya di ambil saja”ujarku lalu menuju ke rumah nenekku.

Di depan ruma nenekku aku langsung saja mengetuk pintu sambil mengucapkan salam dan tak butuh waktu lama pintu itu terbuka.
“Gio!”ujarku kaget sambil membulatkan mataku karena yang membukakan pintu itu sosok cowok Cinta pertamaku,Kenapa ini! Kenapa dia berada di rumah nenekku. Astaga , ini sungguh menyebalkan sekali. Rasanya kepalaku puyeng bener karena saat melihat Gio aku jadi teringat kejadian itu, ingin rasanya ku kabur mendapati Gio berada di rumah nenekku tetapi ku terlalu kangen sama Ibuku dan Adikku jadi nggak jadi deh.
Gio juga tak kalah kagetnya melihatku berada di sini “Prima!”

Hening tak ada yang berbicara tapi itu tak berlangsung lama karena sodarku Fio memecahkan kehinangan itu di balik pintu “Kak Gio , siapa yang....”belum selesai Fio bicara sambil memegang cemilan dan dia mendapatkan aku berada di depan pintu , Fiopun sontak memelukku karena gimana tidak? 3 tahun we...! ehrr.. pastilah Sodaraku kangen denganku.
“Kakak, kenapa kakak baru datang. Aku sungguh sangat kangen sama kakak”ujarnya kegirangan melihatku berada disini
“Maaf yah Fio”pintaku sambil melihat kedepan dimana berada Gio yang sedang memperhatikanku dengan reaksi yang sulit ku tebak
“Kak , ayo masuk! O iya , kakak masih kenalkan Gio teman kelas kakak waktu SMP”ujarnya meyuruhku masuk sambil bertanya padaku
“Yah”ujarku sangat singkat dan dingin.

^Flashback^
Di dalam kelas yang masih ada banyak sisiwa
“Prima,lohh pikir ulang dulu deh! Gue takut loh napa – napa”ujar Nani sahabatku khawatir denganku
“Nan , aku sudah tidak tahan”ujarku sambil menitikkan air mata
“Tapi Prima , loh taukan Gio itu. Ku mohon jangan lakukan itu !jangan gegabah Mi. Aku takut sekali”ujarnya menyuruhku mempertimbangkan bahwa aku akan menerima Gio
“Kamu tak perlu khawatir Nani, gue nggak gak apa – apa kok!”ucapku lalu menuju ke Pintu kelas dimana Gio berada
Akupun menyatakan isi hatiku pada Gio
“Gio , jujur aku sangat menyukaimu!”ujarnya saat keluar main dimana Gio yang baru saja mau keluar ke kelas dengan Nalen sahabatnya. Sungguh aku tidak percaya sekali ternyata cowo yang aku simpan menyimpan perasaanku lebih 2 tahun juga
“Hah.. nyadar dongg luu tuhh nggak selevel sama gue! Ngaca dulu dong. Apa gue harus beliin dulu lohh kaca baru nyadar. Buang – buang tuh perasaan loh. Lebih baik loh kasih perasaan itu sama tempat sampah ajah”ujar Rudi dengan kalimat pedas padaku sambil memasang muka jijit. Di dalam kelasku semuanya ribut karena kelakuanku.
Aku tak menyangka apa yang dikatakannya itu , air mataku pecah akupun langsung keluar dari kelas disusul Nani mengekorku.Aku sekarang berada di belakang Lab Bahasa Indonesia sambil menangis dan terus menangis dan Nanipun mengahmpiriku “Prim, gue kan udah bilang. Aku mohon berhentilah menangis , jangan hanya karena cowok seperti dia kau jadi seperti ini. Masih banyak kok cowok di dunia ini!”selanya padaku sambil memelukku menyuruhku menghentikan tangisanku tetapi bukannya tangisanku berhenti tapi aku lebih menangis lagi.
“Prim , gue mohon jangan menangis!”pintanya padaku yang tak henti – hentinya menangis “Nani, makasih yah kau selalu membantuku di dalam suka dan duka”ujarku menghentikan tangisanku dan Nanipun tersenyum mengembang “Itulah gunanya sahabat Prima”

***

Aku duduk di ruang tamu , bisa kulihat Gio meminta izin pada Fio untuk pulang.
“Fio , gue pulang dulu yah. Nggak enak nih ada kakak loh”ujar Gio pada Sodaraku dengan memegang kaset bola
“baiklah kalo gitu , aku mengerti kok maksud kakak”ujarnya
“Okayy, gue duluan dulu yah.”ujar Gio permisi sama Fio

Fio menemani Gio pulang sampai di depan rumah dan tak lama kemudian Fiopun kembali di susul ibuku yang baru pulang dari pasar.
“Ibu...!aku kangen banget sama ibu”ujarku dan langsung berdiri dari tempat dudukku
“Prima...!”ujar ibu kegirangan dan langsung menuju ke aku lalu memelukku
Aku begitu senang sekali bisa bertemu ibuku begitupula dengan sodaraku. Ku lihat ibu mengalami perubahan dengan dirinya. Wajah ibu berubah menjadi pucat dan keriput dan sodaraku berubah menjadi anak remaja yang gagah dan tampan.

Fio membawakan barangku ke kamar tamu dan aku mengekor mengikutinya. Di dalam kamar ku hempaskan diriku di tempat tidur dan adikku duduk di sampingku.
“Fio , kenapa Gio tadi disini?”ujarku bertanya penasaran
“Tadi aku sama kak Gio lagi main Playstasion kak. kenapa kakak nanya – nanya?”jawab Fio dan bertanya padaku
“ tidak apa – apa kok”ujarku takut karena nanti adikku curiga padaku

Keeskokan harinya aku mencoba untuk berjalan jalan ke Taman Kota
Di taman , ku berlari pagi mengelilingi taman sambil membawa tas ransel berisi Laptop dan saat asyik – asyiknya aku berlari ada seorang cowok yang menabrakku dari depan memakai baju putih abu – abu dengan 5 buku tulis dipegangnya terjatuh.
“Maaf, gue nggak nggak sengaja”ujar cowok itu tapi aku tak melihat mukanya dengan jelas lalu diapun mengambil bukunya yang terjatuh “aku kok yang salah. Sini aku bantu”ujarku dan akupun membantunya mengambil bukunya yang terjatuh dan tak sengaja mataku dengan cowok itu bertemu dan akupun tahu siapa cowok itu.
“Gio!”ujarku kaget karena aku bertemu lagi dengan Gio. Mengapa ini terjadi lagi? Bisa gila aku lama – lama karena bertemu terus dengan Gio. Semenjak Gio menolakku aku jadi trauma untuk menyukai seseorang sampai sekarang dan entah kenapa sekarang perasaan cintaku pada Gio kembali lagi. Ini sungguh sangat menyebalkan -__- aku pun berlari dengan cekatan sambil menitikkan air mata meninggalkan Gio yang juga kaget melihatku bertemu denganku lagi.

Ku berlari secepatnya karena ketakutan , setiap kali ku lihat Gio kalimat itu terbayang – bayang di otakku “Hah.. nyadar dongg luu tuhh nggak selevel sama gue! Ngaca dulu dong. Apa gue harus beliin dulu lohh kaca baru nyadar. Lebih baik loh kasih perasaan itu sama tempat sampah ajah” kalimat pedas yang di dengar oleh semua temanku di kelas. Rasanya sakit banget saat menginggat itu.
“Primaaaa, maafin gue soal dulu! Gue mohon Prim”teriak Gio memohon sambil berlari mengejarku
Akupun mempercepat lariku dan kebetulan saat itu aku melihat mobil pete – pete, aku langsung saja masuk dalam mobil itu dan menyuruhnya cepat jalan.
Mobil pete – pete itu berjalan, air mataku berjatuhan terus menerus membasahi pipiku yang agak putih. Diriku sekarang memang udah berubah , aku jadi putih dan mukaku sekarang sudah tidak ada jerawat lagi.

Di dalam mobil pete – pete ku baru sadar kalau penumpangnya hanya aku bersama seorang cowok yang pakaian sekolahnya mirip denganGio.
“Prima..!loh Primakan”ujarnya bertanya padaku
“Yah..”jawabku dan saat itu ku perhatikan muka cowok itu dan menghentikan tangisanku. Disitu aku baru sadar bahwa cowok itu adalah Nalen sahabat Gio.
“hai Nalen”ujarku menyapa dan bukannya membalas sapaanku tapi Nalen malah bertanya “Prim , loh napa menangis! Apa karena Gio . tadi gue lihat koh kamu sama Gio berlari – larian”
Saat dia katakan itu , aku menangis lagi.Jantungku sesak banget , rasanya kepalaku puyeng benar dan belum sempat ku jawab pertanyaannya aku langsung jatuh pingsan.

^Rumah Nenek^
Mataku terbuka sedikit – demi sedikit di atas ranjang tidurku. Kulihat Gio menitikkan air mata berada di sampingku dan saat dia melihatku mataku sudah terbuka diapun tersenyum senang melihatku.
“Prim, loh udah sadar”gumam Gio padaku
“Kenapa loh ada disini. Loh keluar sana. Gue benci sama loh”teriak diriku yang kesal sekali.
“Prim, gue minta”belum sempat Gio selesai aku langsung mem berontak dan lebih keras berteriak “Gue bilang loh keluar!”
Mamaku dan adikku begitupula dengan nenekku menyuruhku tenang tapi ku lebih memberontak dan saat Gio keluar dari kamarku ditemani Fio akupun tenang. aku memang orang tidak baik , tapi ku tak bisa melupakan semuanya. Hatiku sakit sekali, sulit ku maafkan Gio.

Satu minggu kemudian , aku duduk sendiri di taman memperhatikan mobil maupun motor berlalu lalang ditemani burung – burung berkicaun dan pohon – pohon yang menari – nari memberi semangat diriku. Aku yang terlalu fokus memperhatikan keindahan taman tidak sadar bahwa Gio sudah berada di sampingku.
“Prima”ujar Gio yang membuatku kaget mendengar perkataanya, sontak saja ku berdiri dan bersiap untuk lari tapi tanganku ditahan olehnya dan Gio langsung memelukku “Prim , gue mohon maafin gue. Loh tau smenjak kejadian itu gue baru sadar kalo gue itu mencintai lohh, saat tiada loh , gue tidak bisa menyukai siapapun. Hidup gue rasanya nggak berarti, Hanya loh yang ada di hati gue. Gue mohon maafin gue Prim , gue memang udah terlambat tapi bisakah kau mendengarkannya”
“Loh bohong Gio, loh pasti suka gue setelah melihatku sekarangkan”ujarku tak percaya mendengar perkataannya “Gue nggak bohong, tatap mata gue. Tatap...?”ujarnya menyuruhku menatap matanya , akupun menatap matanya dan kulihat tiada tanda kebohongan darinya.
“Prim , maafin gue yah. Gue sayang banget sama loh. Jangan lagi menghindar dai gue, ku mohon! Dulu dan sekarang tiada bedanya loh. Gue tetap sayang loh gimanapun dirimu. Gue suka lohh dari dalam diriloh bukan diluar loh”ujarnya yang membuatku menitikkan air mata.
“Yah, gue juga sayang sama loh”ujarku
Hariku penuh dengan tawa yang indah tiada lagi kesedihan semenjak Gio berada di sampingku.

Cinta pertamaku itulah menjadi cinta terakhirku. Aku sangat menyayanginya, perasaanku yang sudah ku pendam 4 tahun tidak sia – sia.


GIO.. I LOVE YOU:)

Karma sang cowok Playboy




Aku punya temen yang super ganteng dan cool abis. Emagh sih dia bukan temenku. Aku Cuma kenal dia aja. Tapi, belum tentu dia tau aku. Panggil aja dia Gilang, itu bukan nama aslinya sih, tapi, yaudah lah, Gilang sekolah di suatu sekolah swasta terkenal di Bandung.
Aku dapet info dari temen-temennya kalu dia itu pinter, ganteng, cakep, keren, gaul, anak orang kaya, Cuma… dia sering gunain kelebihannya buat kesenangannya sendiri, yaitu cari cewe banyak, dan buat gonta-ganti. Dia piker cewe tuh maenan apaa yang bisa dipake dan di buang kalau sudah bosen?? Dia salah. . .

Dia akan kena Hukum Karma kalu dia begitu…
Cowo yang suka maenin cewe, namanya PLAYBOY, tapi cowo yang suka maen sama sebelas orang, namanya play football, acara di SCTV, playlist He he he he. . . . .

Eh, balik lagi ke cowo playboy,,
Ceritanya gini,,

Ada seorang cowok yang baru beranjak remaja. Dia ganteng dan keren banget. Banyak cewek yang naksir sama dia. Tiap baru liat ajah bisa langsung klepek klepek.
Aku sih ga terlalu kenal dia banget yaa, tapi kalau dia jadi kayak cerita aku ini, mungkin bisa jadi kayak gini deh. . . . .

Pertama kali pacaran, cowok ini mulai berfikir untuk jadi Top Scorer di buku Rekord Dunia. Bola kali ya Top Scorer…???

Cowok ini emang gak mau manfaatin apa-apa dari para cewenya. Cuma dia pengen dianggep hebat sama temend temen nya. Untuk apa dia manfaatin cewenya, toh dia sudah punya segalanya. Dia anak dari pemilik tempat makan besar. Bapaknya adalah seorang pengusaha terkenal. Mungkin, dia cuma pengen carper sama para cewe dan temen temen nya. Namanya juga punya ortu super busy, paling paling, ya kurang deh perhatiannya.
Cowok ini sudah gonta ganti 13 cewek dalam 2 tahun. Dia bisa handel semuanya dengan mudah. Tapi pada endingnya,, dia dapet cewek yang gak bisa dia lupain, dia sayang banget sama cewe itu,, tapi, karena dia kayak gitu, cewe yang disayang banget itu, ninggalin dia tiba tiba atau mutusin hubungan mereka.
Cowok ini sampe mohon mohon sama tuh cewek. Akhirnya hati cewek luluh juga ngeliat  cowok itu. Sebenernya cewek itu juga sayang banget,. Cuma, dulu, sebelum dia jadian sama Gilang, dia tuh cuma disuruh buat ngebales perbuatan Gilang. Tapi, malah jadi cinta beneran deh…

Akhirnya, mereka balikan lagi dan mereka janji gak akan saling mengkhianatin kasih sayang dari ke-2nya.


HAPPY ENDING kan??
Makanya, yang gak mau di tinggal pacar yang di sayang, gak usah deh belajar nge-2. . .
kalau udah terlanjur,, ya, gimana ya??
Yah berhenti lah.,.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Eitss iyaa Tapi kalau udah baca Comment yahh ;))
Telimaacih;))<3

Senin, 14 Juli 2014

Seperti Bintang

Lala tersenyum kagum saat melihat Bagas berhasil memasukan bola ke dalam gawang. begitu memperhatikan permainan Sepak Bola Bagas sampai dia tidak sadar bahwa Alin sudah berada di sampingnya.

“Asyik banget sih, sampe nggak sadar kalau ada gue.” kata Alin
“Hai, Lin, nggak kok ini permainan tim sepak bola sekolah kita makin hebat ya.” sahut Lala
“Tim Futsalnya atau Bagasnya yang hebat?” goda Alin
“Tim Futsalnya lah, Lin.”

“Sampai kapan sih lo mau nutupin perasaan lo ke Bagas, udah 3 tahun lho, La.” Alin seolah mengingatkan Lala tentang rasa cintanya pada Bagas.
“Entahlah Lin, mungkin nggak akan pernah gue ungkap. Biar gue simpan semua ini sendiri aja. Gue cuma pengen seperti bintang, yang selalu ada meskipun nggak selalu terlihat.”
“Lala… lo udah sering sakit hati karena dia, apa lo nggak ngebutuhin balasan?” Alin tampak heran.
“Rasa cinta gue ke dia besar banget, Lin, sampai gue nggak bisa bedain antara sakit hati dan cinta. Melihat dia bahagia aja gue udah ikut seneng kok. Untuk apa sih dia sama gue kalau dianya enggak bahagia.” jawab Lala tulus.
“Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo, La.” kata Alin akhirnya.
“Lo nggak harus ngerti Lin, lo cukup jaga rahasia ini aja. Udah deh nggak usah ngomongin ini.” pinta Lala.
Alin hanya mengangguk. “Gue akan bantuin lo semampu gue, La.”
batin Alin.Hari ini Lala Libur , tanpa tugas. Lala memutuskan pergi ke Gramedia seorang diri. lala memang paling suka membaca buku. Sikap ini sangat bertentangan dengan sahabatnya, Alin. Jadi Lala selalu pergi ke perpustakaan tanpa sahabatnya itu.
Lala diem tepat didepan buku buku novel di Gramedia setelah selesai mencari buku yang diinginkannya..Lala membacanya sambil berdiri
Saat tengah asyik membaca buku, Lala merasa seperti ada orang yang berjalan ke arahnya. Lala lantas mendongak. Matanya beradu dengan mata seseorang. Sepersekian detik hanya seperti itu sampai akhirnya orang itu menyapa Dira lebih dulu.

“Hai La, sendirian aja ya, boleh gue temenin di sini?” tanya cowok berpostur tinggi bernama Bagas menunjuk tempat buku buku novel itu dan di beridiri di samping Lala.
“Eh, ehm.. iya nih, iya gas.” jawab Lala tergagap.
“Tumben sendiri, biasanya kemana-mana sama Alin.” kata Bagas seraya beridiri di samping Lala.
“Alin kan anti banget sama perpustakaan, lo sendiri tumben ke perpus.”
“Males aja di kelas, iya nih gua dirumah ga ada kerjaan gini kalau nggak dimanfaatin kan sia-sia.”
“Iya sih, Kenapa nggak maen basket aja?”
“Enggak deh, La, ntar si nenek lampir ngerecokin gue.”
“Nenek lampir? bukan Zahra kan yang lo maksud?”
“Ya dia lah, La. Siapa lagi coba yang selalu ngekor gue kalau bukan dia.” kata Bagas kesal.
“Lho, gue kira kalian pacaran. Selama ini kan kalian selalu barengan terus.” ujar Lala heran.
“Ogah gila’ pacaran sama orang kayak gitu, bukannya cinta tapi malah ilfeel, La. Lagian udah ada seseorang yang ngisi hati gue.” kata Bagas serius.
“Oh gitu, lo pasti cinta banget ya sama dia sampai Zahra yang secantik itu aja lo tolak.” suara Lala bergetar.
“Iya gue cinta banget sama dia, tapi sayang gue cuma bisa jadi bintang. Bintang yang selalu ada tapi nggak selalu nampak di matanya. Walaupun kebahagiaannya bukan sama gue, tapi gue ikut bahagia kok.” Bagas berkata tulus.
Lala terdiam. “Kenapa ucapan Bagas seperti ucapan gue ya?” Lala bertanya dalam hati.
“La, kok malah ngelamun sih. Lo nggak papa kan?” Bagas menyadarkan Lala.
“Eh, enggak kok. Gue cuma ngebayangin gimana sakitnya lo setiap liat cewek itu jalan sama cowok lain.” dusta Lala.
“Gue cinta banget sama dia, La, sampai gue nggak bisa bedain sakit hati sama cinta.”
Lala merasakan matanya mulai memanas. Ucapan Bagas begitu terasa di hatinya. Semua ucapan Bagas seperti sebuah parang yang menggores hatinya. Ucapan Bagas seperti sebuah sindiran yang ditujukan padanya.
“Ehm, Gas, gue duluan ya.” pamit Lala sebelum air matanya tumpah di depan Bagas.
Bagas ingin menahan kepergian Lala, namun dia mengurungkan niatnya. Bagas menyadari ucapannya telah melukai hati Lala.

Bagas memang sengaja mengucapkan semua itu untuk menyadarkan Lala bahwa Lala harus menunjukkan perasaannya pada Bagas. Bagas telah mengetahuai semua rahasia yang disimpan rapat oleh Lala selama 3 tahun semenjak dia SD hingga kini dia sudah akan lulus SMP.
~~~~~
Alin telah menceritakan semuanya pada Bagas. Alin tidak tega melihat Lala terus tersiksa dengan perasaan cintanya. Meskipun Lala bilang dia tidak apa apa tapi Alin sudah beberapa kali memergoki Lala diam-diam menangis setelah melihat kemesraan Zahra dengan Bagas. Selama ini Alin membiarkan Lala menyimpan perasaannya dan berharap Lala akan menunjukkan perasaannya itu pada Bagas sebelum mereka lulus. Namun sampai saat ini Lala tetap saja tidak menunjukkan rasa cintannya pada Bagas. Akhirnya Alin nekad memberi tahu Bagas tentang perasaan cinta yang dipendam Lala selama 3 tahun padanya. Dan kini Bagas sudah mengetahuinya.
Semenjak bertemu dengan Bagas di perpustakaan, sikap Bagas menjadi pendiam. Dia selalu menghindar bila bertemu dengan Bagas ataupun saat melihat Bagas sedang bersama dengan Zahra. Alin merasakan perubahan sahabatnya itu. Namun Alin membiarkannya.
Lala juga tidak mau melihat pertandingan final tim basket sekolahnya. Hanya karena Bagas menjadi kapten Futsalnya. Lala ingin melupakan semua perasaannya pada Bagas. Namun semua itu terasa sulit. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hati Lala. Sesuatu yang membuat Lala tidak bisa melupakan perasaan cintanya begitu saja.
Malam ini adalah malam minggu. Seperti malam-malam minggu biasanya, Lala hanya diam di kamarnya. Kalau biasanya dia membaca buku, kali ini tidak. Lala masih memikirkan perasaannya pada Bagas. Apakah dia memang harus melupakan semua cintanya? Sanggupkah Lala melakukannya? Semua itu membuatnya semakin galau. Tiba-tiba HP-nya bergetar. 1 New Message tertera pada layar touchscreennya.
from : Bagas
La, tlg tmenin gw. Plis…
to : Bagas
kmna?
from : Bagas
Kafe, bwt ngerayain kmenangan tim futsal kmrin. Gw udh d dpan rmh lo.
lala menyibakkan gorden jendela kamarnya. Dan ternyata Bagas sudah bertengger santai di atas motor sportnya. Hhh… Lala menghela nafas berat. Sebenarnya Lala ingin menolak tapi melihat Bagas sudah berada di depan rumahnya, dia urung menolak. Tanpa membalas SMS dari Bagas, Lala segera bersiap-siap.
Bukannya mengajak Lala ke kafe seperti yang ditulis pada SMSnya tadi, Bagas malah mengajak Lala mengelilingi pusat kota. Di sebuah bukit yang dihiasi dengan banyak lampion Bagas menghentikan laju motornya. Dari atas bukit itu mereka bisa melihat bintang dengan jelas. Untuk beberapa saat mereka terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kok ke sini, katanya mau ke kafe?” tanya Lala memecah keheningan.
“Gue males ke sana, pasti ada Zahra. Semakin hari semakin muak gue sama tingkahnya.” jawab Bagas. Lala hanya mengangguk. Mereka kembali terdiam.
“La…” panggil Bagas.
“Ya.” jawab la.
“Mau sampai kapan kayak gini?” tanya bagas tanpa menatap Lala.
“Maksud lo?” Lala balik bertanya, bingung dengan pertanyaan Bagas.
Bagas justru diam tanpa menjawab pertanyaan Lala. Melihat Bagas tidak bereaksi, Lala pun ikut diam. Hening. Lagi-lagi hanya keheningan yang tercipta.
Bagas kembali buka suara. “Mau sampai kapan lo jadi seperti bintang-bintang itu?” tanya Bagas menunjuk taburan bintang di langit, “selalu ada walaupun nggak selalu nampak?”
“Gue nggak ngerti sama omongan lo, Gas.” Lala pura-pura.
“Lo ngerti kok, kenapa sih lo lebih seneng nyakitin hati lo sendiri dari pada nunjukin perasaan lo ke gue kayak cewek-cewek lain, kayak Zahra misalnya. Kenapa La?” Bagas menatap Lala.
“Lo udah tahu ya, pasti Alin kan? Hh…” Lala menghela nafas, “gue punya cara sendiri buat mencintai lo. Lo suka bintang dan gue pengen jadi seperti bintang. Selalu ada meskipun lo nggak selalu liat gue. Yang penting gue bisa selalu liat lo. Buat gue semua itu udah cukup bikin gue seneng,Gas.” jelas Lala berkaca-kaca.
“Lo tahu nggak La, gue ngerasa bersalah dan nyesel banget saat Alin cerita semua tentang lo. Selama ini gue deket sama beberapa cewek dan seneng-seneng sama mereka. Tapi tanpa gue sadar, gue udah bikin hati salah satu cewek yang selalu baik sama gue remuk. Hancur berantakan.” kata Bagas penuh penyesalan.
“Lo nggak boleh ngerasa kayak gitu, Gas. Lo nggak salah sama sekali. Semua ini kemauan gue sendiri. Dan sekarang kan lo udah tahu, gue udah seneng kok. Mulai saat ini lo nggak perlu mikirin perasaan gue lagi karena mulai malam ini juga gue akan lupain perasaan gue ke lo selama ini.” Lala mengucapkannya dengan air mata yang membasahi pipinya.
“Kok lo seenaknya gitu sih, La. Lo pikir gue akan biarin cewek yang udah gue sakitin dan gue cintai selama ini pergi gitu aja? Dan lo pikir cuma lo doang yang jadi seperti bintang-bintang itu? Gue juga La, gue cowok pengecut yang nggak berani ungkapin cinta sama lo selama 4 tahun!” kata Bagas keras.
“Bagas, ja.. jadi selama ini lo…”
“Iya, gue juga cinta sama lo selama 3 tahun ini. Gue kira dengen deket sama beberapa cewek bisa buat gue lupain perasaan gue ke lo. Tapi nyatanya gue nggak bisa, gue semakin tersiksa dengan perasaan yang gue pendam. Dan saat gue mau ungkapin semua ke lo, gue lihat lo lagi deket sama Nalendra. Akhirnya gue nggak pernah ungkap perasaan gue ke siapapun sampai Alin cerita perasaan lo ke gue.” potong Bagas.
“Gue emang sempet deket sama Nalendra tapi perasaan gue ke lo terlalu kuat, nggak ada yang bisa memudarkan cinta gue sama lo.” Lala menyeka air matanya.
“Gue tahu… sorry ya udah bikin hati lo terluka.”
“Gue juga, sorry udah bikin lo kesiksa.”
“La, sekarang di bawah cahaya bulan dan di bawah tatapan bintang-bintang di langit malam ini, aku pengen kamu jadi bintang di hatiku. Bintang yang akan selalu bersinar dan terus nampak di hatiku kapanpun. Nggak peduli siang atau malam, nggak peduli panas atau dingin. Berapapun jumlah bintang yang ada di langit, seterang apapun mereka, aku nggak peduli. Cuma kamu satu-satunya bintang yang paling terang buat aku. Kamu mau kan jadi bintangku selamanya?” Bagas menggenggam tangan Lala erat.
Lala kembali meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Serasa mimpinya menjadi kenyataan.
“Kamu serius kan, Gas, bukan karrna kasihan sama aku?” tanya Lala memastikan.
“Bukan cuma serius bahkan seratusrius, La. Percaya sama aku. Aku akan bahagiain kamu. Kata-kataku tadi bukan gombal atau sebatas rayuan.” jawab Bagas mantap.
“Gimana, La?” tanya Bagas tak sabar.
“Aku rasa, aku udah nggak bisa lagi nahan perasaanku ke kamu.” jawab Lala.
“Maksud kamu, La?”
“Ya, aku mau jadi bintang di hati kamu selamanya.”
“Makasih, La.” Refleks Bagas memeluk Lala, “Aku janji bakal jagain kamu, nggak akan aku biarin kamu berhenti bersinar.”
Bagas melepaskan pelukannya. Dia menatap Lala dalam. Keduanya lalu tersenyum.
“Sekarang jadi aku – kamu ya?” kata Lala menyandarkan kepalanya di bahu Bagas.
“Nggak papa biar kedengaran romantis.” ujar Bagas seraya membelai rambut Lala.

Malam itu Bagas dan Lala menghabiskan malam minggu berdua di bukit yang mereka namakan bukit bintang sambil mengamati indahnya hamparan bintang yang bersanding dengan bulan di langit. Tanpa mempedulikan teman-teman Bagas yang tengah menunggu sang kapten untuk merayakan kemenanngan tim Futsalnya.
Bintang itu kini tidak lagi bersembunyi, bintang itu kini akan selalu ada dan selalu nampak. Di hati Bagas dan Lala tentunya.
**********************************************************************************************
Thanks you for your visit to the prima blogger
I hope you liked my story ;)
ohh iyaa kalo kalian pengen lebih deket sama prima bisa ko kalian chat/wall ke fbnya prima (Prima Rani Emiliana) atau mention ke @primaaran ;))

Selasa, 08 Juli 2014

Ketika Cinta Berkhianat

Aku wanita biasa , aku wanita normal , aku bukan boneka yang bias kau mainan dan kau sakiti kapanpun kau mau. Aku punya hati bukan untuk disakiti. Aku memang belum bisa memberikan yang terbaik buat kamu tapi seengganya kau hargai aku.
Dibohong dan dikhianati itu rasanya sakit banget. Kau tega bohongi aku , kau bilang single tapi nyatanya pacaran dan lebih parahnya lagi kau selingkuh sebelum putus denganku. Banya orang yang bilang bahwa kamu dekat dan bahkan menjalin status. Mendengar hal itu hati aku hancur , sakit. PERCAYA GA PERCAYA! Tapi saksi Banyak ?
Aku tida Hiperbola , aku tidak membesar besaran masalah , tapi hatiku tidak bisa berdusta! Perempuan mana yang tidak cemburu melihat dan mendengar pacarnya dekat dengan seorang cewe yang mencintainya. Sebenarnya kamu sadar ga sih ? KAMU ITU SELINGKUH! Kamu tau ga perasaanku saat ini ? Hati aku perih , rapuh , teriris dan berdarah!
Aku tau cinta tak berlangsung lama dan selamanya, tapi ia akan bertahan, bertahan begitu kuat dan lama , hingga aku tau bahwa kau telah khianati hati dan cinta ini!
Hal yang tersedih adalah ketika kau pergi menjauhiku dan perasaan ini semakin bertambah pedih, seiring banyanya langah aki saat kau meninggalkanku.
Aku bertanya Tanya dalam hati. Mengapa au tega melakukan semua ini ? apa aku telah menyakiti hatimu ? mengecewaanmu ? ataukah amu sudah bosan ?
Tapi aku tetap bersyukur , karma aku masih diberi rasa patah hati , merasakan kecewa dan masih bisa menangis , tu artinya aku masih punya hati. Bahkan hatiku bukan sembarang hati , hatiku bisa dibilang sensitive , yang lembut dan bahwan yang mampu bahagia dan terluka. Mungkin banyak teman dan aka yang selalu bilang “kalo itu pacar aku udah aku marahin dia , tamper dia dan cewenya aku labrak”. Tapi apa ? aku tidak seperti itu. aku masih punya hati dan aku masih punya kesabaran.
Dan akhirnya aku tlah menduga , kau meninggalkanku dan aku bisa apa ? Aku hanya bisa menangis dan mencoba ikhlas mengikhlaskan kamu untuk bahagia bersamanya yang lebih mencintaimu.
Walau hati ini sakit melihat kamu menjalankan cinta indah bersamanya aku tetap harus Merelakanmu.
Yang lalu biarlah berlalu arna bagaimanapun juga semua itu tlah terjadi. Biarlah semua tenggelam bersama matahari disore hari dan tak akan muncul kembali untuk selamanya.
Dear Diary
Aku masih mencintaimu
AKu tak bisa berdusta tentang perasaanku
Tapi mau bagaimana lagi ?
Kamu tlah bahagia bersamanya disana
Dan aku disini hanya bisa tersenyum dalam luka yang dalam
Bagaimanapun juga aku harus ikhlas
Mengikhlaskan kamu bersama cinta yang lain.........


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hey, Guys! This is My First Blog!! :)) Semoga Ceritanya Bagus yaa ;))

No Copy Paste!! (kalo mau izin dulu yaa :D)

Makasiih~ Mohon Bantuannyaa... :DD