Lala tersenyum kagum saat
melihat Bagas berhasil memasukan bola ke dalam gawang. begitu memperhatikan
permainan Sepak Bola Bagas sampai dia tidak sadar bahwa Alin sudah berada di
sampingnya.
“Asyik banget sih, sampe nggak sadar kalau ada gue.” kata Alin
“Hai, Lin, nggak kok ini permainan tim sepak bola sekolah kita makin hebat ya.” sahut Lala
“Tim Futsalnya atau Bagasnya yang hebat?” goda Alin
“Tim Futsalnya lah, Lin.”
“Sampai kapan sih lo mau nutupin perasaan lo ke Bagas, udah 3 tahun lho, La.” Alin seolah mengingatkan Lala tentang rasa cintanya pada Bagas.
“Entahlah Lin, mungkin nggak akan pernah gue ungkap. Biar gue simpan semua ini sendiri aja. Gue cuma pengen seperti bintang, yang selalu ada meskipun nggak selalu terlihat.”
“Lala… lo udah sering sakit hati karena dia, apa lo nggak ngebutuhin balasan?” Alin tampak heran.
“Rasa cinta gue ke dia besar banget, Lin, sampai gue nggak bisa bedain antara sakit hati dan cinta. Melihat dia bahagia aja gue udah ikut seneng kok. Untuk apa sih dia sama gue kalau dianya enggak bahagia.” jawab Lala tulus.
“Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo, La.” kata Alin akhirnya.
“Lo nggak harus ngerti Lin, lo cukup jaga rahasia ini aja. Udah deh nggak usah ngomongin ini.” pinta Lala.
Alin hanya mengangguk. “Gue akan bantuin lo semampu gue, La.” batin Alin.Hari ini Lala Libur , tanpa tugas. Lala memutuskan pergi ke Gramedia seorang diri. lala memang paling suka membaca buku. Sikap ini sangat bertentangan dengan sahabatnya, Alin. Jadi Lala selalu pergi ke perpustakaan tanpa sahabatnya itu.
Lala diem tepat didepan buku buku
novel di Gramedia setelah selesai mencari buku yang diinginkannya..Lala
membacanya sambil berdiri
Saat tengah asyik membaca buku,
Lala merasa seperti ada orang yang berjalan ke arahnya. Lala lantas mendongak.
Matanya beradu dengan mata seseorang. Sepersekian detik hanya seperti itu
sampai akhirnya orang itu menyapa Dira lebih dulu.
“Hai La, sendirian aja ya, boleh gue temenin di sini?” tanya cowok berpostur tinggi bernama Bagas menunjuk tempat buku buku novel itu dan di beridiri di samping Lala.
“Eh, ehm.. iya nih, iya gas.” jawab Lala tergagap.
“Tumben sendiri, biasanya kemana-mana sama Alin.” kata Bagas seraya beridiri di samping Lala.
“Alin kan anti banget sama perpustakaan, lo sendiri tumben ke perpus.”
“Males aja di kelas, iya nih gua dirumah ga ada kerjaan gini kalau nggak dimanfaatin kan sia-sia.”
“Iya sih, Kenapa nggak maen basket aja?”
“Enggak deh, La, ntar si nenek lampir ngerecokin gue.”
“Nenek lampir? bukan Zahra kan yang lo maksud?”
“Ya dia lah, La. Siapa lagi coba yang selalu ngekor gue kalau bukan dia.” kata Bagas kesal.
“Lho, gue kira kalian pacaran. Selama ini kan kalian selalu barengan terus.” ujar Lala heran.
“Ogah gila’ pacaran sama orang kayak gitu, bukannya cinta tapi malah ilfeel, La. Lagian udah ada seseorang yang ngisi hati gue.” kata Bagas serius.
“Oh gitu, lo pasti cinta banget ya sama dia sampai Zahra yang secantik itu aja lo tolak.” suara Lala bergetar.
“Iya gue cinta banget sama dia, tapi sayang gue cuma bisa jadi bintang. Bintang yang selalu ada tapi nggak selalu nampak di matanya. Walaupun kebahagiaannya bukan sama gue, tapi gue ikut bahagia kok.” Bagas berkata tulus.
Lala terdiam. “Kenapa ucapan Bagas seperti ucapan gue ya?” Lala bertanya dalam hati.
“La, kok malah ngelamun sih. Lo nggak papa kan?” Bagas menyadarkan Lala.
“Eh, enggak kok. Gue cuma ngebayangin gimana sakitnya lo setiap liat cewek itu jalan sama cowok lain.” dusta Lala.
“Gue cinta banget sama dia, La, sampai gue nggak bisa bedain sakit hati sama cinta.”
Lala merasakan matanya mulai memanas. Ucapan Bagas begitu terasa di hatinya. Semua ucapan Bagas seperti sebuah parang yang menggores hatinya. Ucapan Bagas seperti sebuah sindiran yang ditujukan padanya.
“Ehm, Gas, gue duluan ya.” pamit Lala sebelum air matanya tumpah di depan Bagas.
Bagas ingin menahan kepergian Lala, namun dia mengurungkan niatnya. Bagas menyadari ucapannya telah melukai hati Lala.
Bagas memang sengaja mengucapkan
semua itu untuk menyadarkan Lala bahwa Lala harus menunjukkan perasaannya pada
Bagas. Bagas telah mengetahuai semua rahasia yang disimpan rapat oleh Lala
selama 3 tahun semenjak dia SD hingga kini dia sudah akan lulus SMP.
~~~~~
Alin telah menceritakan semuanya
pada Bagas. Alin tidak tega melihat Lala terus tersiksa dengan perasaan
cintanya. Meskipun Lala bilang dia tidak apa apa tapi Alin sudah beberapa kali
memergoki Lala diam-diam menangis setelah melihat kemesraan Zahra dengan Bagas.
Selama ini Alin membiarkan Lala menyimpan perasaannya dan berharap Lala akan
menunjukkan perasaannya itu pada Bagas sebelum mereka lulus. Namun sampai saat
ini Lala tetap saja tidak menunjukkan rasa cintannya pada Bagas. Akhirnya Alin
nekad memberi tahu Bagas tentang perasaan cinta yang dipendam Lala selama 3
tahun padanya. Dan kini Bagas sudah mengetahuinya.
Semenjak bertemu dengan Bagas di
perpustakaan, sikap Bagas menjadi pendiam. Dia selalu menghindar bila bertemu
dengan Bagas ataupun saat melihat Bagas sedang bersama dengan Zahra. Alin
merasakan perubahan sahabatnya itu. Namun Alin membiarkannya.
Lala juga tidak mau melihat
pertandingan final tim basket sekolahnya. Hanya karena Bagas menjadi kapten
Futsalnya. Lala ingin melupakan semua perasaannya pada Bagas. Namun semua itu
terasa sulit. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hati Lala. Sesuatu yang
membuat Lala tidak bisa melupakan perasaan cintanya begitu saja.
Malam ini adalah malam minggu.
Seperti malam-malam minggu biasanya, Lala hanya diam di kamarnya. Kalau
biasanya dia membaca buku, kali ini tidak. Lala masih memikirkan perasaannya
pada Bagas. Apakah dia memang harus melupakan semua cintanya? Sanggupkah Lala
melakukannya? Semua itu membuatnya semakin galau. Tiba-tiba HP-nya bergetar. 1
New Message tertera pada layar touchscreennya.
from : Bagas
La, tlg tmenin gw. Plis…
to : Bagas
kmna?
from : Bagas
Kafe, bwt ngerayain kmenangan tim futsal kmrin. Gw udh d dpan rmh lo.
lala menyibakkan gorden jendela kamarnya. Dan ternyata Bagas sudah bertengger santai di atas motor sportnya. Hhh… Lala menghela nafas berat. Sebenarnya Lala ingin menolak tapi melihat Bagas sudah berada di depan rumahnya, dia urung menolak. Tanpa membalas SMS dari Bagas, Lala segera bersiap-siap.
Bukannya mengajak Lala ke kafe seperti yang ditulis pada SMSnya tadi, Bagas malah mengajak Lala mengelilingi pusat kota. Di sebuah bukit yang dihiasi dengan banyak lampion Bagas menghentikan laju motornya. Dari atas bukit itu mereka bisa melihat bintang dengan jelas. Untuk beberapa saat mereka terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kok ke sini, katanya mau ke kafe?” tanya Lala memecah keheningan.
“Gue males ke sana, pasti ada Zahra. Semakin hari semakin muak gue sama tingkahnya.” jawab Bagas. Lala hanya mengangguk. Mereka kembali terdiam.
“La…” panggil Bagas.
“Ya.” jawab la.
“Mau sampai kapan kayak gini?” tanya bagas tanpa menatap Lala.
“Maksud lo?” Lala balik bertanya, bingung dengan pertanyaan Bagas.
Bagas justru diam tanpa menjawab pertanyaan Lala. Melihat Bagas tidak bereaksi, Lala pun ikut diam. Hening. Lagi-lagi hanya keheningan yang tercipta.
Bagas kembali buka suara. “Mau sampai kapan lo jadi seperti bintang-bintang itu?” tanya Bagas menunjuk taburan bintang di langit, “selalu ada walaupun nggak selalu nampak?”
“Gue nggak ngerti sama omongan lo, Gas.” Lala pura-pura.
“Lo ngerti kok, kenapa sih lo lebih seneng nyakitin hati lo sendiri dari pada nunjukin perasaan lo ke gue kayak cewek-cewek lain, kayak Zahra misalnya. Kenapa La?” Bagas menatap Lala.
“Lo udah tahu ya, pasti Alin kan? Hh…” Lala menghela nafas, “gue punya cara sendiri buat mencintai lo. Lo suka bintang dan gue pengen jadi seperti bintang. Selalu ada meskipun lo nggak selalu liat gue. Yang penting gue bisa selalu liat lo. Buat gue semua itu udah cukup bikin gue seneng,Gas.” jelas Lala berkaca-kaca.
“Lo tahu nggak La, gue ngerasa bersalah dan nyesel banget saat Alin cerita semua tentang lo. Selama ini gue deket sama beberapa cewek dan seneng-seneng sama mereka. Tapi tanpa gue sadar, gue udah bikin hati salah satu cewek yang selalu baik sama gue remuk. Hancur berantakan.” kata Bagas penuh penyesalan.
“Lo nggak boleh ngerasa kayak gitu, Gas. Lo nggak salah sama sekali. Semua ini kemauan gue sendiri. Dan sekarang kan lo udah tahu, gue udah seneng kok. Mulai saat ini lo nggak perlu mikirin perasaan gue lagi karena mulai malam ini juga gue akan lupain perasaan gue ke lo selama ini.” Lala mengucapkannya dengan air mata yang membasahi pipinya.
“Kok lo seenaknya gitu sih, La. Lo pikir gue akan biarin cewek yang udah gue sakitin dan gue cintai selama ini pergi gitu aja? Dan lo pikir cuma lo doang yang jadi seperti bintang-bintang itu? Gue juga La, gue cowok pengecut yang nggak berani ungkapin cinta sama lo selama 4 tahun!” kata Bagas keras.
“Bagas, ja.. jadi selama ini lo…”
“Iya, gue juga cinta sama lo selama 3 tahun ini. Gue kira dengen deket sama beberapa cewek bisa buat gue lupain perasaan gue ke lo. Tapi nyatanya gue nggak bisa, gue semakin tersiksa dengan perasaan yang gue pendam. Dan saat gue mau ungkapin semua ke lo, gue lihat lo lagi deket sama Nalendra. Akhirnya gue nggak pernah ungkap perasaan gue ke siapapun sampai Alin cerita perasaan lo ke gue.” potong Bagas.
“Gue emang sempet deket sama Nalendra tapi perasaan gue ke lo terlalu kuat, nggak ada yang bisa memudarkan cinta gue sama lo.” Lala menyeka air matanya.
“Gue tahu… sorry ya udah bikin hati lo terluka.”
“Gue juga, sorry udah bikin lo kesiksa.”
“La, sekarang di bawah cahaya bulan dan di bawah tatapan bintang-bintang di langit malam ini, aku pengen kamu jadi bintang di hatiku. Bintang yang akan selalu bersinar dan terus nampak di hatiku kapanpun. Nggak peduli siang atau malam, nggak peduli panas atau dingin. Berapapun jumlah bintang yang ada di langit, seterang apapun mereka, aku nggak peduli. Cuma kamu satu-satunya bintang yang paling terang buat aku. Kamu mau kan jadi bintangku selamanya?” Bagas menggenggam tangan Lala erat.
Lala kembali meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Serasa mimpinya menjadi kenyataan.
“Kamu serius kan, Gas, bukan karrna kasihan sama aku?” tanya Lala memastikan.
“Bukan cuma serius bahkan seratusrius, La. Percaya sama aku. Aku akan bahagiain kamu. Kata-kataku tadi bukan gombal atau sebatas rayuan.” jawab Bagas mantap.
“Gimana, La?” tanya Bagas tak sabar.
“Aku rasa, aku udah nggak bisa lagi nahan perasaanku ke kamu.” jawab Lala.
“Maksud kamu, La?”
“Ya, aku mau jadi bintang di hati kamu selamanya.”
“Makasih, La.” Refleks Bagas memeluk Lala, “Aku janji bakal jagain kamu, nggak akan aku biarin kamu berhenti bersinar.”
Bagas melepaskan pelukannya. Dia menatap Lala dalam. Keduanya lalu tersenyum.
“Sekarang jadi aku – kamu ya?” kata Lala menyandarkan kepalanya di bahu Bagas.
“Nggak papa biar kedengaran romantis.” ujar Bagas seraya membelai rambut Lala.
La, tlg tmenin gw. Plis…
to : Bagas
kmna?
from : Bagas
Kafe, bwt ngerayain kmenangan tim futsal kmrin. Gw udh d dpan rmh lo.
lala menyibakkan gorden jendela kamarnya. Dan ternyata Bagas sudah bertengger santai di atas motor sportnya. Hhh… Lala menghela nafas berat. Sebenarnya Lala ingin menolak tapi melihat Bagas sudah berada di depan rumahnya, dia urung menolak. Tanpa membalas SMS dari Bagas, Lala segera bersiap-siap.
Bukannya mengajak Lala ke kafe seperti yang ditulis pada SMSnya tadi, Bagas malah mengajak Lala mengelilingi pusat kota. Di sebuah bukit yang dihiasi dengan banyak lampion Bagas menghentikan laju motornya. Dari atas bukit itu mereka bisa melihat bintang dengan jelas. Untuk beberapa saat mereka terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kok ke sini, katanya mau ke kafe?” tanya Lala memecah keheningan.
“Gue males ke sana, pasti ada Zahra. Semakin hari semakin muak gue sama tingkahnya.” jawab Bagas. Lala hanya mengangguk. Mereka kembali terdiam.
“La…” panggil Bagas.
“Ya.” jawab la.
“Mau sampai kapan kayak gini?” tanya bagas tanpa menatap Lala.
“Maksud lo?” Lala balik bertanya, bingung dengan pertanyaan Bagas.
Bagas justru diam tanpa menjawab pertanyaan Lala. Melihat Bagas tidak bereaksi, Lala pun ikut diam. Hening. Lagi-lagi hanya keheningan yang tercipta.
Bagas kembali buka suara. “Mau sampai kapan lo jadi seperti bintang-bintang itu?” tanya Bagas menunjuk taburan bintang di langit, “selalu ada walaupun nggak selalu nampak?”
“Gue nggak ngerti sama omongan lo, Gas.” Lala pura-pura.
“Lo ngerti kok, kenapa sih lo lebih seneng nyakitin hati lo sendiri dari pada nunjukin perasaan lo ke gue kayak cewek-cewek lain, kayak Zahra misalnya. Kenapa La?” Bagas menatap Lala.
“Lo udah tahu ya, pasti Alin kan? Hh…” Lala menghela nafas, “gue punya cara sendiri buat mencintai lo. Lo suka bintang dan gue pengen jadi seperti bintang. Selalu ada meskipun lo nggak selalu liat gue. Yang penting gue bisa selalu liat lo. Buat gue semua itu udah cukup bikin gue seneng,Gas.” jelas Lala berkaca-kaca.
“Lo tahu nggak La, gue ngerasa bersalah dan nyesel banget saat Alin cerita semua tentang lo. Selama ini gue deket sama beberapa cewek dan seneng-seneng sama mereka. Tapi tanpa gue sadar, gue udah bikin hati salah satu cewek yang selalu baik sama gue remuk. Hancur berantakan.” kata Bagas penuh penyesalan.
“Lo nggak boleh ngerasa kayak gitu, Gas. Lo nggak salah sama sekali. Semua ini kemauan gue sendiri. Dan sekarang kan lo udah tahu, gue udah seneng kok. Mulai saat ini lo nggak perlu mikirin perasaan gue lagi karena mulai malam ini juga gue akan lupain perasaan gue ke lo selama ini.” Lala mengucapkannya dengan air mata yang membasahi pipinya.
“Kok lo seenaknya gitu sih, La. Lo pikir gue akan biarin cewek yang udah gue sakitin dan gue cintai selama ini pergi gitu aja? Dan lo pikir cuma lo doang yang jadi seperti bintang-bintang itu? Gue juga La, gue cowok pengecut yang nggak berani ungkapin cinta sama lo selama 4 tahun!” kata Bagas keras.
“Bagas, ja.. jadi selama ini lo…”
“Iya, gue juga cinta sama lo selama 3 tahun ini. Gue kira dengen deket sama beberapa cewek bisa buat gue lupain perasaan gue ke lo. Tapi nyatanya gue nggak bisa, gue semakin tersiksa dengan perasaan yang gue pendam. Dan saat gue mau ungkapin semua ke lo, gue lihat lo lagi deket sama Nalendra. Akhirnya gue nggak pernah ungkap perasaan gue ke siapapun sampai Alin cerita perasaan lo ke gue.” potong Bagas.
“Gue emang sempet deket sama Nalendra tapi perasaan gue ke lo terlalu kuat, nggak ada yang bisa memudarkan cinta gue sama lo.” Lala menyeka air matanya.
“Gue tahu… sorry ya udah bikin hati lo terluka.”
“Gue juga, sorry udah bikin lo kesiksa.”
“La, sekarang di bawah cahaya bulan dan di bawah tatapan bintang-bintang di langit malam ini, aku pengen kamu jadi bintang di hatiku. Bintang yang akan selalu bersinar dan terus nampak di hatiku kapanpun. Nggak peduli siang atau malam, nggak peduli panas atau dingin. Berapapun jumlah bintang yang ada di langit, seterang apapun mereka, aku nggak peduli. Cuma kamu satu-satunya bintang yang paling terang buat aku. Kamu mau kan jadi bintangku selamanya?” Bagas menggenggam tangan Lala erat.
Lala kembali meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Serasa mimpinya menjadi kenyataan.
“Kamu serius kan, Gas, bukan karrna kasihan sama aku?” tanya Lala memastikan.
“Bukan cuma serius bahkan seratusrius, La. Percaya sama aku. Aku akan bahagiain kamu. Kata-kataku tadi bukan gombal atau sebatas rayuan.” jawab Bagas mantap.
“Gimana, La?” tanya Bagas tak sabar.
“Aku rasa, aku udah nggak bisa lagi nahan perasaanku ke kamu.” jawab Lala.
“Maksud kamu, La?”
“Ya, aku mau jadi bintang di hati kamu selamanya.”
“Makasih, La.” Refleks Bagas memeluk Lala, “Aku janji bakal jagain kamu, nggak akan aku biarin kamu berhenti bersinar.”
Bagas melepaskan pelukannya. Dia menatap Lala dalam. Keduanya lalu tersenyum.
“Sekarang jadi aku – kamu ya?” kata Lala menyandarkan kepalanya di bahu Bagas.
“Nggak papa biar kedengaran romantis.” ujar Bagas seraya membelai rambut Lala.
Malam itu Bagas dan Lala menghabiskan malam minggu berdua di bukit yang mereka namakan bukit bintang sambil mengamati indahnya hamparan bintang yang bersanding dengan bulan di langit. Tanpa mempedulikan teman-teman Bagas yang tengah menunggu sang kapten untuk merayakan kemenanngan tim Futsalnya.
Bintang itu kini tidak lagi bersembunyi, bintang itu kini akan selalu ada dan selalu nampak. Di hati Bagas dan Lala tentunya.
**********************************************************************************************
Thanks you for your visit to the prima blogger
I hope you liked my story ;)
ohh
iyaa kalo kalian pengen lebih deket sama prima bisa ko kalian chat/wall
ke fbnya prima (Prima Rani Emiliana) atau mention ke @primaaran ;))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar